Tajuk Barito –
Penggerebekan markas judi online (judol) internasional di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, menjadi pengingat keras akan dampak destruktif dari praktik mengadu nasib digital ini. Fenomena ini tidak hanya menyasar ekonomi, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial dan kesehatan mental para korbannya.

Daniel (27), seorang pekerja di Jakarta, menceritakan kisah pahit rekan kantornya yang terjebak dalam pusaran judol. Awalnya, korban diberikan kemenangan kecil untuk memicu ketagihan. Namun, seiring meningkatnya nilai deposit, korban justru kehilangan segalanya, termasuk tabungan puluhan juta rupiah yang seharusnya digunakan sebagai modal nikah.

Kecanduan judol diketahui memicu masalah kompleks. Selain tekanan utang, pelaku biasanya mengalami gangguan emosional seperti depresi, kecemasan, hingga perilaku manipulatif yang merusak relasi keluarga. Bagi anak-anak, paparan judol lebih berbahaya karena dapat merusak fokus belajar dan kontrol emosi akibat pelepasan dopamin yang berlebihan dari sensasi kemenangan instan.

Di sisi lain, Indonesia kini tengah dibidik sebagai “markas baru” oleh sindikat internasional. Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menilai pergeseran ini terjadi setelah negara-negara di Indochina, seperti Vietnam, melakukan pemberantasan besar-besaran. Kejahatan transnasional ini bergerak dinamis mencari celah di negara lain.

Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya, menambahkan bahwa infrastruktur internet yang cepat di kota besar serta kemudahan kebijakan visa on arrival menjadi daya tarik bagi bandar judol untuk membuka kantor di Indonesia. Hal ini terbukti dari aktivitas para WNA di markas Hayam Wuruk yang sempat tak terdeteksi. Kasus ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan demi memutus rantai peredaran judi online yang mengancam ketahanan keluarga dan negara.